Membuat Novel Cerita Sejarah

 

 "Perjalanan Cinta dimasa Revolusi"

ditujukan untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia

Nama : Nazla Syaili Aulia

Kelas : XII- MIPA 10

No. Absen : 21


Prolog

 

       “Cepat..cepat!” Teriak beberapa wanita yang terlihat di dalam sedan yang akan melaju.

       “Iya-iya tunggu!”

        Aku berlari dengan tergesa dan langsung menaiki mobil truk tersebut dan duduk di samping kemudi sopir. Aku tidak bergabung dengan teman-temanku yang berada di mobil sedan karena diriku sudah terlampau panik.

        Erangan penuh kesakitan terdengar selama perjalanan. Sulistina, itu namaku. Aku memejamkan mata erat,  menangis dalam diam, tak tega rasanya mendengar teriakan kesakitan itu.

        Namun tak disangka di tengah perjalanan, truk tiba-tiba terhenti, aku merasa tengkukku terasa dingin karena tersentuh benda yang tidak kuketahui. Setelah aku menoleh ke belakang, ternyata benda itu adalah laras sebuah pistol. Tentu saja aku sangat terkejut.

      “Aku tak tahu siapa yang sembrono mengenggam pistol, tetapi larasnya mengenai kudukku!” ucapku dalam hati.

        Aku berteriak panik “Eee..Bung!’ pistolnya jangan diarahkan kepadaku! Tapi pada musuh!”

        Teguranku membuat kaget pemilik pistol itu dan langsung menarik pistolnya. Aku menatap wajah seorang pria dihadapanku ini. Raut terkejut masih kentara sekali di wajah pria itu. Entah perasaanku atau bagaimana namun aku melihat tatapan pria dihadapanku ini sangat dalam padaku. Kami sempat tertegun selama beberapa waktu, sampai truk kembali melanjutkan perjalanan.

          Sesampainya di tempat yang dituju, semua orang bergegas menurunkan para pemuda yang terlihat terluka parah dari dalam kap truk. Aku meringis ia menahan rasa sakit hati melihat kondisi para pemuda pejuang ini. Tanpa basa-basi akupun segera membopong seorang pemuda menuju rumah sakit di hadapanku, Rumah Sakit Simpang.

          Sulistina, aku seorang gadis yang masih duduk di bangku SMA. Aku diminta tolong untuk datang ke daerah yang sama sekali tak pernah ku datangi, Surabaya. Aku aktif di organisasi kepemudaan dan aku merupakan anggota Palang Merah Indonesia (PMI), Aku pergi menuju Surabaya untuk membantu para korban perang.

         “Tolong..tolong hiks.” Isak tangis seorang wanita terdengar oleh pendengaranku, setelah selesai mengobati seorang pemuda dengan segera aku menemui wanita yang terlihat menangis di pojok koridor rumah sakit.

          “Bu..Ibu kenapa?” tanyaku.

          “Anak saya..hiks tolong cari anak saya.” Tangis wanita tambah keras, terdengar menyayat hati.

           Diriku melihat keadaan wanita dihadapanku ini, tampak darah memenuhi hampir di seluruh baju yang dikenakannya. Darah terlihat masih mengucur pada kepalanya, kaki dan tangan yang terluka sobekan serta lebam-lebam, juga sepertinya perut wanita tersebut tertancap sesuatu sehingga darah tak henti mengalir.

          “Ibu tenang dulu ya, saya mau obati luka Ibu dulu. Bahaya kalau sampai infeksi.”

           Raut muka wanita tersebut berubah, terlihat kilatan amarah pada wajahnya “TIDAK! SAYA TIDAK MAU! SAYA MAU CARI ANAK SAYA!!”

          Aku terkejut mendengarnya, dengan pelan aku memegang bahu wanita di hadapanku itu “Ibu..luka Ibu parah harus segera di obati, Ibu ingin bertemu anak ibu bukan? Jika Ibu terluka seperti ini apa anak Ibu senang melihatnya?” bujukku secara halus.

          Wanita itu menundukkan kepalanya, terlihat ia merasa bersalah “Maaf ‘Ndu.. maaf saya membentakmu tadi.”

          Aku tersenyum maklum, “Tak apa Bu..mari saya obati.” Ucapku sembari menuntun wanita itu memasuki ruang rawat.

          Dilain tempat, terlihat seorang pemuda gagah yang tengah sibuk berjaga bersama rekan sebayanya. Puluhan pemuda di kampung itu bersiap siaga. Raut wajah mereka sangat serius, tak ada yang bisa bercanda di tengah suasana pertempuran seperti ini. Ikat kepala berwarna merah putih terpasang pada dahi para pemuda itu. Senjata tersampirkan pada bahu mereka serta bambu runcing yang tergenggam erat pada lengan masing – masing.

         “Ingat, jangan lengah! Mereka bisa saja menyerang kembali sewaktu-waktu!” ujar seorang pria sembari menoleh ke arah rekan-rekannya.

          Serempak para pemuda itu menatap seorang lelaki yang tadi berbicara, Bung Tomo. Lahir pada 3 Oktober 1920. Seorang pejuang yang berusaha melawan para penjajah bersama para rekannya. Bung Tomo aktif dalam kelompok politik dan sosial, dulu ia bekerja sebagai jurnalis. Namun kini, ia memilih untuk mati-matian berperang melawan para penjajah demi negaranya, Indonesia.

           Para pemuda tersebut mengangguk patuh, mereka mulai mengamati kembali keadaan sekitar.Waspada musuh menyelinap masuk.

           Bung Tomo menegakkan badannya pada posisi siap kembali, tak disangka kilasan kejadian saat ia bertemu seorang wanita dalam truk tadi kembali teringat olehnya. Ia mengira wanita itu merupakan penyusup karena wajahnya yang terlihat sangat cantik. Tak sadar bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.

 

 

Bagian 1 – Pertemuan Tak Terduga

 

          Suara teriakan, kesakitan, kericuhan, kini menjadi hal biasa yang setiap hari terjadi di daerah ini. Kondisi tersebut menjadi gambaran umum penduduk Surabaya tak lama setelah proklamasi Kemerdekaan, saat menyambut kedatangan pasukan Inggris. Sesuai perjanjian Postdam, Inggris ditugaskan memulihkan status quo dan melucuti persenjataan pihak pemuda. Hal itu mendapat tentangan dari berbagai badan perjuangan di Surabaya.

           Para pemuda Indonesia menganggap negerinya sudah merdeka sehingga tak rela dilucuti dan diperintah orang asing. Lantaran perundingan antara pimpinan pasukan Inggris dengan Gubernur Suryo dan Residen Sudirman tak mendapatkan titik temu, kedua belah pihak pun memulai pertempuran.

          Berulang kali aku menangis dalam diam. Aku merasa takut dan bingung namun dengan keberanian dalam diriku, aku mencoba untuk menghadapi semuanya dengan tabah. Kini aku tengah berada di sebuah dapur umum yang didirikan oleh para wanita yang termasuk anggota palang merah. Aku berada di salah satu dapur umum paling populer yaitu Dapur Umum Palang Merah 45 yang didirikan oleh Lukitaningsih.

         Kedudukan dapur umum dan palang merah sejajar dengan front-front pertempuran. Maka ketika kedudukan kaum perjuangan semakin terdesak ke pinggir, palang merah tempatku bergabung pun ikut tergeser. Mereka kemudian menyingkirkan markas ke SMA Darmo. Namun karena musuh semakin dekat, mereka terpaksa menyingkir kembali.

        “Keluar, keluar!” teriak seorang pria yang tiba-tiba saja memasuki barak.

         Aku beserta teman-temannya langsung berdiri dengan raut wajah panik.

        “Ada apa, Mas?” tanyaku pada pria tersebut.

         Pria tersebut tampak kaget, raut kegugupannya tak dapat ia tutupi. Namun karena situasi mendesak pria itu mencoba menjelaskan apa yang terjadi padaku, walaupun dengan sedikit terbata. Mendengar perkataan yang dilontarkan oleh pria itu aku langsung bergegas menemui teman-temanku. Tampak pria itupun langsung meninggalkan barak.

       “Keluar katanya kita harus keluar! Kita harus ngungsi ke tempat yang aman, ada mata-mata yang ditembak mati!” seruku dengan keringat bercucuran pada dahi.

        Sontak semua orang disana langsung berkemas dan bersiap keluar barak. Namun ditengah keributan dalam barak, salah seorang temanku bernama Gendis menepuk bahuku “Kenapa, Ndis?” tanyaku.

        “Itu, Mas yang tadi bukannya Bung Tomo ya?”

        Dahiku mengerut “Bung Tomo? Aku nda pernah dengar Ndis” jawabku.

        Gendis menggelengkan kepalanya “Kamu ini Lis.. makanya keluar toh jangan ngerem terus di barak.”

       Aku hanya membalas dengan senyuman.

       Dalam keadaan itulah pada suatu pagi saat aku dan teman-teman sudah berada di barak yang baru. Aku dan keenam temanku kembali mendapat tugas mengambil makanan untuk dibagikan ke front. Namun sayang, pagi itu perutku tampak ‘tak bersahabat’. Entah karena apa perutku terasa sangat nyeri sehingga aku tak kuat untuk berdiri.

       “Aduh kamu itu Lis, perutmu tuh kok yo kaya nda tau diri gitu loh!” ucap salah satu temanku bernama Putri.

       “Iya toh Lis, lagi situasi sangat genting ini!” sahut salah satu temanku dengan nada terdengar kesal, Ayu namanya.

        Aku menunduk sedih sembari terus meremas perutku yang bertambah nyeri “Maaf, maafkan aku..aku juga nda tau kenapa perutku tiba-tiba sakit sekali seperti ini.” Ucapku lirih.

        Gendis, temanku yang ada disana menghela nafasnya pelan, entah akupun tak tahu apa penyebabnya, namun sepertinya ia merasa kasihan melihatku kesakitan seperti ini “Sudah-sudah kalian jangan seperti itu kasihan Sulis. Biarlah dia istirahat disini sementara.”

        Mendengar perkataan Gendis, sontak diriku menatap dia lalu tersenyum “Terimakasih Ndis, maafkan aku sekali lagi ya..”

        Gendis mengangguk, lalu ia mengajak keempat temannya untuk bergegas menjalankan tugas mereka dengan membawa rantang makanan di kedua lengan masing-masing. Lalu mereka mulai menaiki truk yang sudah menunggu di lapangan depan dapur umum.

        Disisi lain aku terus meringis kesakitan, entah apa yang terjadi pada perutku namun sakitnya tak kunjung hilang. Dengan tertatih aku mengambil air putih pada kendi yang ada di hadapanku. Perlahan, selama beberapa menit ia berdiam diri, kini nyeri perutku sudah berangsur reda.

       “DUARR!!!”

        Aku sangat terkejut mendengar suara ledakan yang terdengar sangat keras itu, dengan tergesa aku langsung berlari keluar melihat apa yang terjadi. Terlihat banyak orang tengah berlarian dengan panik.

       “Mas, itu ada apa Mas?!”

         Seorang pria yang ditanya olehku pun berhenti sejenak dan mengatur napasnya yang tak beraturan “Ah, tadi ada sebuah mobil meledak 3 meter di depan truk yang membawa kawan-kawanku. Dua gadis PMI gugur, tiga luka-luka, entah yang lainnya.” Ucap pria itu.

         Napasku seakan tercekat mendengar hal itu, setelah mengucapkan terimakasih kini aku berlari ke arah orang-orang yang tengah berkerumun. Sepertinya tengah menggotong seseorang.

         Aku menangis saat melihat siapa yang digotong oleh para lelaki itu. Gendis, wanita itu tampak terluka parah dengan darah yang terus mengucur dari kepala dan lengannya. Terlihat juga Ayu dan Putri dengan keadaan tak jauh berbeda. Dengan segera aku meminta para pria itu untuk membawa teman-temannya ke rumah sakit Belanda yang tak jauh dari tempat diriku berada.

        Selama perjalanan menuju rumah sakit, diam-diam aku mengucapkan syukur pada Maha Kuasa karena rasa sakit perutku menyelamatkanku dari tragedi itu.

 

 

Bagian 2 – Ulang Tahun

 

        “Nah, sudah rapih.”

         Aku mengamati penampilanku di depan cermin, aku tampak terlihat anggun menggunakan kebaya berwarna kuning keemasan serta rambut yang disanggul rapih. Tak lupa dengan dandanan wajah yang natural menambah aura kecantikanku. Biarlah aku merasa sangat percaya diri kali ini hahaha.

          Kini aku tengah berada di kota kelahiranku, Malang. Aku diminta untuk kembali ke tempat asalku, tak hanya aku sendiri namun semua orang diminta mengungsi keluar dari Kota Surabaya karena kondisi disana masih berperang dan takut memakan jiwa lebih banyak lagi.

          Hari ini aku diundang oleh temannya di sebuah restoran, atas undangan tersebut jadi aku bersiap menghadiri acara itu sedari tadi.

          Sesampainya di restoran, aku heran lantaran undangan tersebut disesaki kaum pria. Aku baru menyadari bahwa aku satu-satunya wanita yang ada disana. Namun karena sudah terlanjur datang akupun tetap menghadiri acara tersebut.

        “Lis, kamu datang toh. Ayu tenan iki Mbak.” Ucap Cakra, temanku yang tengah berulang tahun.

         Aku tertawa dengan pelan “Opo sih Cak, biasa saja toh.”

         Kami pun mulai berbincang tanpa tahu ada seseorang yang mengamatiku sedari tadi.

        “Lis..Lis, ada lelaki lihat kamu daritadi.” Cakra menunjuk seseorang dengan matanya.

         Dahiku mengerut heran, namun karena penasaran akupun mengikuti arah pandangan yang ditunjukan Cakra. Tatapanku bertubrukan dengan seorang pria yang tengah menatapku dalam, menyadari diriku menatap ke arahnya, pria itu memberikan senyuman manis yang membuatku menunduk malu dengan pipi yang memerah.

        Tak disangka pria itu berjalan mendekatiku, Cakra yang melihat itu segera menyingkir.Ia paham betul arti tatapan pria itu yang merupakan rekannya, kepadaku. Menyadari ada seseorang yang mendekat aku mendongakan kepalanya dan diam terpaku saat mengetahui siapa yang datang.

       “Perkenalkan saya Tomo.” Ucap Bung Tomo sembari mengulurkan tangannya.

         Aku menerima uluran tangan itu dengan malu-malu, entah aku juga tak mengerti dengan perasaanku sendiri. “Saya Sulistina.”

       “Nama yang cantik, seperti orangnya.” Goda Bung Tomo dengan manis.

         Aku tertawa ringan, Bung Tomo yang melihat itu tak bisa mengalihkan pandangannya barang sedikitpun. Dalam hati ia terus mengatakan “cantik” berulang kali. Iya, Bung Tomo mengakui bahwa dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis dihadapannya ini. Sejak peristiwa di truk dulu, entah mengapa gadis tersebut selalu berada dipikirannya.

       “Bisakah kita berbincang sebentar gadis manis?” ucap Bung Tomo dengan senyuman lebarnya.

        Aku tertawa kembali, entah kenapa aku merasa bahagia saat ini. Setelah menganggukan kepalaku kita pun duduk di salah satu meja dan mulai berbincang ringan.

      “Apa kamu masih sekolah?” tanya Bung Tomo

      “Sudah lulus, baru saja.”Jawabku sembari memakan makanan yang terhidang di meja.

      “Bagus kalau begitu.”

       Mendengar perkataan Bung Tomo, Aku terkekeh pelan “Bagus gimana toh, Mas?”

       Lagi dan lagi, Hati Bung Tomo berdesir mendengar panggilan “Mas” yang dilontarkan gadis di hadapannya ini ditambah tawa kecil yang terdengar begitu anggun menambah kesan cantik gadis itu.

       Bung Tomo berdeham pelan lalu tersenyum kembali “Iya, bagus kalau begitu jadi saya bisa cepat-cepat menikahimu.”

      “Uhuk-uhuk”

       Sontak saja diriku langsung tersedak makanan yang ada di dalam mulutku, Bung Tomo yang melihat itu dengan cepat menyerahkan minum. “Pelan-pelan saja, Dek.”

       Bukan, bukan itu. Aku sangat terkejut mendengar pernyataan yang dilontarkan Mas Tomo padaku tadi. Menikah? Berarti secara tidak langsung dia sedang melamarku bukan?.

      “Mas, Mas serius?” tanyaku masih dengan raut terkejut.

      “Saya tidak pernah bercanda, Dek. Sejak Mas pertama kali bertemu denganmu, Mas sudah jatuh hati.” Ucap Mas Tomo tenang.

        Aku merasa jantungku berdegup kencang, aku menatap wajah Mas Tomo yang terlihat serius dengan ucapannya. Namun disisi lain, entah mengapa aku merasa senang.

      “Jadi ijinkan Mas untuk mendekatimu ya, Dek?”

        Bung Tomo menatap penuh harap pada Sulistina, gadis pujaan hatinya. Sebuah anggukan pelan membuat dirinya bersorak dalam hati dan tersenyum lebar. Iya, Sulistina menerimanya.

        Aku tersenyum malu, lalu kita kembali berbincang tentang banyak hal.

 

 

Bagian 3 – Perjalanan Cinta dimasa Revolusi

 

         Tak terasa, sudah berbulan – bulan lamanya Mas Tomo dan diriku saling mengenal, kita pun semakin dekat. Kini aku dan dia tengah terpisah oleh jarak karena Mas Tomo harus kembali ke medan peperangan. Sedangkan diriku kembali menjadi relawan PMI.

         Kini diriku beserta teman – temanku tengah dalam perjalanan menuju tempat pengungsian di suatu daerah. Sesampainya disana aku dan teman-temanku langsung memasuki barak tersebut, namun tak disangka ternyata disana ada seseorang yang sudah lama kurindukan.

       “Mas Tomo?”

         Bung Tomo berdiri lalu menghampiriku, dirinya pun tak kalah terkejut. “Kamu kok bisa disini, Dek?”

        Aku menggelengkan kepala “Entah Mas..aku ditugaskan disini.”

        Bung Tomo tersenyum, lalu mengucapkan kalimat “hati-hati” padaku ,lalu kami pun berpisah kembali untuk menjalankan tugas masing-masing.

         Ketika diriku tengah duduk di kamar bersama teman-teman palang merah dan bersenda gurau, aku terkejut melihat Mas Tomo yang masih mengenakkan sarung usai shalat magrib tiba-tiba masuk ke kamarku.

         Sontak semua temanku terdiam, Mas Tomo langsung memegang tanganku dan membawaku keluar kamar.

        “Ada apa ini, Mas?” tanyaku masih terkaget-kaget.

        “Kamu sudah ada yang punya engga?” tanyanya

         Dahiku mengerut heran, ada angin apa tiba-tiba Mas Tomo menanyakan hal itu padaku?. Namun satu ide jahil terlintas di kepalaku.

       “Sudah Mas.” Jawabku santai.

        Terlihat raut muka Mas Tomo berubah, wajahnya seperti terlihat menahan amarah.

       “Siapa?” Tanyanya singkat.

       “Siapa?” Aku mengetukkan jariku pada dagu. Lalu menyengir lebar “Ya Ayah saya lah Mas hehehe..

         Mas Tomo tersenyum lega, dia mengelus pelan puncuk rambutku “Kamu ini..”

         Mulai dari situlah hubunganku bertambah kian dekat dengan Mas Tomo. Sesekali kita bertemu di ruang pergerakan para pejuang revolusi. Kami sama-sama berjuang untuk membela negara ini, Negara Indonesia.

         Namun suatu ketika saat bertemu di ruang itu, Mas Tomo memberikan oleh-oleh sandal kayu padaku. Aku diberi ‘Klompen Geulis’. Dan ternyata setelah Mas Tomo memberikan hadiah itu. Ibu Mas tomo yang bernama Supersita, langsung melamar diriku.

         Namun suatu hal menghambat kami untuk bisa bersatu dengan ikatan yang sah.

         Di masa revolusi, para pemuda menempatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di atas diri sendiri. Revolusi menuntut pengorbanan segala-galanya, termasuk perkawinan sebagai “kenikmatan” pribadi. Mereka berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan bertentangan dengan sifat revolusi yang menjadi-jadi.

         Sorotan pun dialamatkan kepada Mas Tomo ketika hendak menikah denganku pada masa revolusi. Muncul pro dan kontra. Ada yang menyayangkan mengapa Mas Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menikah sebelum perjuangan selesai. Aku pun ikut merasa bersalah.

        “Kami dapat menerima kekecewaan ini.” Ucapku sembari menatap Mas Tomo yang tampak sendu          “Tetapi kami tak dapat menjelaskan secara pribadi apa yang menjadi pertimbangan pernikahan kami.”

          Aku melihat Mas Tomo seperti merasa bersalah, ia mencoba meminta ijin persetujuan dari kelompok pemuda yang dipimpinnya, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI).

          Aku bersyukur saat Mas Tomo mengatakan bahwa pimpinan BPRI menyetujui untuk kami melangsungkan pernikahan, namun dengan suatu syarat.

        “Syaratnya apa, Mas?” tanyaku.

        Mas Tomo menghadapkan tubuhnya ke arahku lalu mulai menggapai tanganku pelan “Meskipun perkawinan telah dilangsungkan, kita tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai suami-istri selama 40 hari. Kita jalani puasa 40 hari ini ya. Demi keberhasilan perjuangan.” Ucapnya lembut

        Aku mengangguk lalu tersenyum menyemangatinya “Iya Mas, syarat ini demi keselamatan negara.”

 

Epilog

        April, 1978

 

Bung Tomo, seorang pahlawan revolusi Indonesia, dipenjarakan oleh Soeharto. Penyebabnya memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Siti Hartinh, istri mantan Presiden Soeharto, sedang sibuk merancang pembangunan TMII. Bung Tomo mendapat informasi bahwa Bu Tien meminta para pengusaha memberikan 10 persen keuntungan usahanya untuk pembangunan TMII. Lalu Bung Tomo menyampaikan informasi itu dan mengkritik pembangunan TMII itu dalam setiap pidatonya.

Pada 11 April 1978, Bung Tomo pun ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Ia dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede. Turut mendekam di dalam jeruji di sana, pakar hukum tata negara Ismail Sunny yang juga dikenal keritis terhadap Orde Baru. Akibat dari masalah TMII, Bung Tomo harus mendekam di dalam tahanan selama satu tahun.

         ‘Srak’

          Aku menutup koran yang kubaca dengan sedikit kasar,  tak terima rasanya suamiku diperlakukan secara tidak adil oleh rezim Soeharto. Air mataku luruh mengingat kejadian yang menimpa suamiku, aku mengecup dahi anakku bernama Titing yang tengah tertidur pulas. Sudah hampir setaun ini aku berpisah dengan Mas Tomo, walaupun ia rajin mengirimiku kabar dengan surat tetapi tetap saja itu tak cukup. Dengan cepat aku mengambil pena dan kertas lalu menuliskan segala isi pikiranku pada kertas itu.

        “Orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negaranya tidak mungkin menghianati bangsanya sendiri”

         Itu adalah sepenggal kalimat yang aku tuliskan pada surat yang kutulis. Segera ku kirimkan surat itu kepada Pa Soeharto sebagai bentuk protes. Karena aku tak bisa melakukan apapun saat ini.

         Inilah resiko perjuangan, aku mencoba untuk menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Namun terkadang aku merasa terharu  sekaligus sedih setiap kali Mas Tomo memberiku surat. Dia adalah pria yang paling bertanggung jawab dan romantis yang pernah aku kenal.

         Syukurlah, setelah setaun penantianku akhirnya Mas Tomo bisa dibebaskan, dengan tak sabaran aku menunggu dia di depan kantor kejaksaan.

         Terlihat perawakan suamiku yang berjalan keluar dari dalam gedung. Mataku berkaca-kaca melihatnya.

        “Mas.. disini Mas!” Seruku sembari melambaikan tangan.

         Mas Tomo terlihat kaget, ia langsung berlari dan menerjangku dengan pelukan erat.

       “Bruk”

        Suara rengkuhan itu terdengar keras, Mas Tomo memelukku dengan sangat erat. Aku menangis terharu, akhirnya... aku bisa merasakan pelukan suamiku kembali.

      “Mas rindu kamu Dek, sangat.” Ucapnya sembari menatapku dengan mata berkaca-kaca.

       Aku mengangguk “Iya Mas, aku juga.” Jawabku sembari tersenyum manis,

       Aku merasakan tubuhku melayang, ternyata Mas Tomo menggendongku sembari tersenyum. Aku menunduk malu, banyak orang yang memperhatikan kami. Namun Mas Tomo sepertinya tak memperdulikan hal itu.

      “Yu kita pulang, Mas juga rindu Titing.”

        Aku mendongakkan kepala lalu mengangguk “Iya, Mas...tapi Mas memang kuat gendong aku sampai rumah?” tanyaku sambil tertawa.

        Mas Tomo juga ikut tertawa “Ya gatau Dek, dicoba saja dulu.” Guyonnya

       “Hahahaha”



 

 

“Semua perjuangan pasti akan menghadapi rintangan, namun hadapilah semua itu dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Dengan melewati semua itu kita pasti akan mendapat pelajaran dari apa yang sudah kita alami. Jadi tetaplah semangat, jangan berhenti berjuang, percayalah pada dirimu sendiri bahwa kita bisa.”

 

 

 

SELESAI

 

 


Komentar

  1. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah untuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  2. ceritanya menarik dan sangat menginspirasi. Penggambaran tokoh serta srukturnya sudah jelas.

    BalasHapus
  3. keren, pemilihan tokoh, cerita, dan alur sangat menarik. Semangatt!!

    BalasHapus
  4. Pemilihan tokoh, kosa kata sangat bagus! Dan alurnya juga sangat menarik!

    BalasHapus
  5. Gaya bahasa yang digunakan mudah dimengerti, alur ceritanya menarik, menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benar

    BalasHapus
  6. alur ceritanya menarik dan tidak membosankan, bahasa yang di gunakan mudah di pahami

    BalasHapus
  7. Ceritanya menarik, pemilihan tokoh, kosakata, dan latar sangat bagus. Alur ceritanya juga menarik!!

    BalasHapus
  8. ceritanya baguss, kaidah kebahasaannya juga sudah tepat

    BalasHapus
  9. Ceritanya menginspirasi,penggambaran sudut pandang 1 nya pun sudah baik dan benar 👍

    BalasHapus
  10. ALur cerita dan pembawaan karakter tokoh disajikan dengan baik, keren!

    BalasHapus
  11. Teks novel sejarah tersebut sudah menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Kerenn

    BalasHapus

Posting Komentar